Ku Raih Surga dengan Dahaga (Menyambut Idul Fitri dengan Hati yang Suci)

Ku Raih Surga dengan Dahaga (Menyambut Idul Fitri dengan Hati yang Suci)

Oleh; Dr. H. Nur Ihsan shaleh, Lc, MA

 A. Prolog

Kurang lebih dari tiga puluh hari kita menahan dahaga, menafikan lapar dan menahan rasa yang selalu menjangkit untuk lari dari kewajiban. Dari titik tolak ini, setidaknya ada pencerahan, manfaat dan hikmah atas perilaku yang kita kerjakan selama sebulan. Banyak rahasia yang bisa kita semai dari ritual yang kita lakoni, sehingga dengan ini kita mampu memandang hidup dengan lebih bisa memahami dan teliti.

Sekarang, waktunya kita lebaran (dalam istilah jawa lebaran berasal dari kata “lebar” yang artinya “usai” atau “selesai”, kemudian dikasih imbuhan “an”) atau usai dari menahan lapar dan dahaga. saatnya kita lebaran atau bebas dari hal-hal yang dilarang dan sekarang menjadi diperbolehkan kembali. Tidak hanya itu, kita juga berharap lebaran yang ada merupakan usainya dan hilangnya dosa-dosa yang telah kita perbuat selama ini. Sebagaimana yang telah tertuang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan imam Bukhari Muslim “barang siapa berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap akan pahalanya, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni” (HR. Bukhari Muslim) maka dengan ungkapan hadits mulia ini, kita berharap memang benar-benar telah usai atau bebas dari dosa-dosa yang telah lalu dan menjadi fitri nan suci.

Dari rancang bangun ini, yaitu usai dan hilangnya dosa-dosa yang kita miliki maka, timbullah istilah Idul fitri  yaitu sebuah terma yang mempunyai arti

kembali menjadi entitas yang suci layaknya sang bayi yang keluar dari rahim sang ibu pertiwi”.

Maka dari itu idul fitri mempunyai makna agung yang mana menjadi tolak ukur keberhasilan kita dalam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh ini. Sehingga dengan keberhasilan melakukan puasa selama ramadhan, kita menjadi suci kembali layaknya sang bayi yang baru keluar dari rahim sang bunda.

Dari landscap ini, bisa dikatakan setiap orang bisa merayakan lebaran tapi belum tentu bisa menikmati atau mencapai idul fitri. Lebaran merupakan terma yang digunakan dalam dhahirnya saja, yaitu lebaran dari melakukan puasa dan hal-hal yang membatalkannya. Tapi idul fitri merupakan hakikat yang sebenarnya dari sisi bathiniyyah yaitu lebaran dari melakukan puasa dan hilangnya dosa-dosa yang ada sehingga menjadi orang-orang yang suci kembali layaknya seperti sang bayi.

Dari statement ini, idul fitri merupakan tingkatan atau harapan tertinggi dalam upaya untuk meraih hakikat yang sebenarnya. Orang yang mampu menggapai idul fitri (kembali pada diri yang suci) sudah pasti masuk dalam Surgawi. Untuk menikwati Surga yang tercipta sudah sewajibnya kita merasakan dahaga. Maka, kita mampu meraih Surga-Nya tapi dengan merasakan dahaga yang datang saat kita berpuasa.

B. Meraih Surga dengan dahaga

“Meraih Surga dengan dahaga” merupakan grand tema pada kesempatan kali ini. sebenarnya judul di atas merupakan sebuah renungan atau kristalisasi dari sebuah kontemplasi pada sebuah hadits yang diriwayatkan Oleh Imam Bukhari Muslim yang artinya

ada dua kegembiraan yang di dapatkan oleh orang yang melakukan puasa, pertama tatkala dia sedang melakukan buka puasa dan yang kedua adalah ketika dia bertemu dengan Allah swt” (HR. Bukhori Muslim) 

paparan ini bukanlah muncul begitu saja atau tiba tanpa di nyana. Akan tetapi merupakan sebuah kongklusi dari jeri payah yang dikerjakan oleh orang-orang yang beriman.

Surga merupakan symbol keindahan dalam dunia ini, ia merupakan isyarat ketentraman dan kenyamanan dalam kehidupan, sehingga setiap insan mengandaikan dan mengharapkan bisa menggapai Surga. Karena seseorang yang ada di dalam Surga niscaya diberi kebebasan untuk menikmati apapun sesuka hatinya.

Para pakar tafsir memahami Surga dengan sebutan “taman”, sebuah taman yang penuh dengan nuansa keindahan. Selain itu surga merupakan sebuah tempat yang keindahan dan kenikmatannya belum ada yang menandinginya. Yaitu sebuah keindahan yang mana keindahan itu  adalah  sepasang mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarkannya dan hatipun belum pernah merasakan kenikmatannya.

Dari sini, untuk mampu meraih Surga-Nya hanya orang-orang tertentu yang mampu menggapainya, yaitu (dari beberapa orang-orang tersebut) manusia-manusia yang beriman dan yang melakukan puasa. Karena orang-orang yang berpuasa sudah dijamin oleh Rasulullah (yang sudah pasti benarnya) mampu bertemu dengan Allah Swt di hari kelak nanti. Barang siapa di Akhirat nanti bertemu dengan Allah swt, maka mereka adalah manusia-manusia penghuni Surga. Karena (seperti yang tertuang dalam tafsir al-Quran al-Karim ) orang-orang kafir tidak akan bisa bertemu dengan Allah swt dan mereka orang-orang kafir sudah dipastikan masuk ke dalam neraka. Artinya, hanya penghuni-penghuni Surgalah yang mampu bertemu dan menghadap sang Tuhan yaitu Allah swt.

Dengan kata lain, untuk mampu bertemu dengan sang Tuhan, seorang hamba harus melakukan ritual keagamaanya yaitu salah satunya melakukan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai fajar menyingsing sampai matahari tenggelam. Bila kita telisik, pertemuan seorang hamba merupakan sebuah event yang agung dan mulia. Dan bisa dikatakan pertemuan yang dimaksud disini adalah sebuah bukti bahwa anak adam ini masuk ke Surga. Karena orang-orang kafir tidak akan bisa bertemu atau melihat Allah (seperti yang di tuliskan Hujatullah Imam Ghazali dalam Ihya ULumuddin). Maka pertemuan antara sang khalik dengan sang mahluk merupakan jawaban secara terang-terangan bahwa orang-orang yang berpuasa sudah dijamin untuk masuk Surga.

Dari paparan ini, dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri, setidaknya kita tidak hanya merayakan karena rampungya melakukan puasa selama satu bulan atau karena merayakan ritual hari raya orang-orang Islam saja, akan tetapi di hari ini merupakan masa persiapan dhahir batin kita untuk menerima piala surgawi yang telah dipersiapkan oleh Ilahi rabby.

Maka dari itu, sepantasnya di hari yang mulia ini, kita siapkan hati yang lapang dan pikiran yang  padang  untuk saling maaf-memaafkan dari segala kekhilafan, sehingga kita menjadi manusia yang benar-benar bersih dari dosa terhadap sesama dan bersih dari dosa kepada sang Penguasa jagad raya (Allah Swt).

C. Penutup

Sungguh berat bisa meraih kenikmatan yang kita impikan, yaitu sebuah kebahagiaan yang abadi, sebuah ketentraman yang tidak akan hilang, yang mana setiap manusia mengharapkannya. Maka, sepantasnya orang-orang Islam meraih Surga dengan dahaga sepanjang masa puasa.

Paparan inilah yang bisa penulis kemukakan, yang pasti kita semua berharap menjadi orang-orang yang fitri nan suci dengan melaksanakan kewajiban dari sang Rabby. Tidak ada sesuatu yang kita lakukan sia-sia, barang siapa melakukan kebaikan sekecil apapun, maka ia akan melihat kebaikan itu, dan barang siapa melakukan keburukan sekecil apapun, maka ia akan merasakan balasannya. maka dahaga yang kita rasa sudah pasti akan dibalas disisi-Nya.

Maka, dengan kembalinya menjadi sosok-sosok yang yang fitri nan suci, maka selayaknya kita tingkatkan ibadah, kurangi hal-hal negative dan tambah hal-hal yang posotive. Semoga dengan lebaran atau perayaan hari raya Idul Fitri tahun ini, Kita memang benar-benar melakukan lebaran atau usai dari dosa-dosa yang dulu pernah kita lakukan, sehingga mampu menggapai janji sang Tuhan untuk menuai Surga Al-Rayyan.  Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Logo STAI 1

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Khozinatul Ulum Blora Jawa Tengah adalah salah satu perguruan tinggi Islam di Kabupaten Blora. Sekolah Tinggi ini didirkan oleh KH. Muharror Ali bersama segenap jajaran pengurus yang tangguh didukung para dosen para dosen yang professional dibidangnya pada tahun 2007.

Alamat

Jl. Mr. Iskandar No.42 Mlangsen, Kec. Blora Kota, Kabupaten Blora
Email: admin@staikhozin.ac.id
Telepon: (0296) 531820
Kode Pos:  58214

FOLLOW US

Copyright © 2019 STAI Khozinatul Ulum Blora